Celebrithink.com – Sanggar Anak Alam (SALAM) kembali menggelar Pesta Wiwitan, sebuah perayaan yang menghidupkan tradisi syukuran panen dan ruang belajar bersama untuk melihat kembali hubungan manusia dengan pangan, alam, dan petani. Acara berlangsung paralel dari Jumat (4/9/2026) hingga Sabtu (5/9/2026) di Kampung Nitiprayan, Kasihan, Bantul.
Mengusung tema “Mangerteni Nasibe Wong Tani”, Pesta Wiwitan 2026 menghadirkan dua agenda utama, yaitu Pasar Pangan pada Jumat, 4 September 2026 dan Wiwitan pada Sabtu, 5 September 2026. Rangkaian kegiatan ini mengajak kita semua, yang sehari-hari menjadi konsumen, untuk mengenal lebih dalam proses panjang di balik makanan yang sampai ke perut kita, dengan mencoba memahami kehidupan para petani yang menanamnya.
“Bagi SALAM, pertanian erat melekat dengan persoalan pangan. Apa yang kita makan, bagaimana makanan diproduksi, dari mana bahan pangan berasal, hingga bagaimana makanan tersebut dikemas dan dijual, merupakan bagian dari rantai yang menghubungkan konsumen dengan petani.” ujar Ketua Panitia Acara Givny Indra dalam pers rilis yang diberikan ke media.
Karena itu, lanjutnya, Pasar Pangan menjadi salah satu agenda utama Pesta Wiwitan 2026. Pasar ini memperkenalkan beragam pangan lokal yang sehat dan beragam, sekaligus mengajak kita semua melihat kembali sumber pangan yang dekat dengan kita.
Dia menjelaskan, Indonesia tidak hanya memiliki beras sebagai sumber karbohidrat. Ada berbagai tanaman pangan lokal yang selama ini hidup dan tumbuh di berbagai daerah, tetapi semakin jarang hadir dalam keseharian masyarakat. Melalui Pasar Pangan, SALAM ingin membuka kembali percakapan tentang keberagaman tersebut dengan mempertemukan penjual dan pembeli dalam sebuah ruang yang memungkinkan terjadinya pertukaran cerita yang memperdalam pengetahuan dan pengalaman.
Pangan yang hadir di pasar juga diupayakan memenuhi prinsip makanan sehat dengan meminimalkan penggunaan bahan tambahan kimiawi seperti perasa, pewarna, dan pengawet. Penggunaan kemasan sekali pakai dihindari, sementara produk nonpangan diarahkan pada pemanfaatan bahan yang berkelanjutan, termasuk praktik daur ulang dan upcycle.
Pada hari yang sama, Pasar Pangan akan diramaikan dengan Pentas Ekspresi. Kelas Minat Gitar, Kelas Minat Tari, serta setiap kelas di SALAM akan mendapatkan ruang untuk menampilkan pertunjukan.
Panggung ini menjadi bagian dari proses belajar anak-anak untuk mengekspresikan diri melalui minat yang mereka pilih. Dengan demikian, rangkaian Wiwitan bukan hanya berbicara tentang pangan dan petani, tetapi juga memberi ruang bagi anak-anak untuk hadir dan mengambil bagian dalam perayaan komunitas.
Pasar Pangan juga menjadi ruang untuk membicarakan urban farming, salah satu cara yang dapat dilakukan masyarakat perkotaan untuk berdaulat menghasilkan bahan pangan.
Bisa jadi banyak keluarga SALAM pernah menanam pokcoy, kangkung, atau cabai di rumah. Tidak banyak, mungkin hanya beberapa pot. Kadang berhasil, kadang gagal, tetapi justru membuat ingin mencoba lagi dan lagi. Dari ruang kecil seperti itulah kesadaran tentang kedaulatan pangan dapat dimulai.
Dalam talkshow yang menjadi bagian dari Pasar Pangan, Farid Gaban dari Indonesia Baru dan Eksan Hartanto dari Sanggar Rojolele, bersama Rika Atika sebagai moderator sekaligus orang tua SALAM pelaku urban farming, akan membicarakan bagaimana praktik menanam di ruang perkotaan dapat berperan di tengah persoalan pangan dan krisis iklim global.
Urban farming tidak lagi semata-mata menjadi tren berkebun di tengah kota. Ia dapat menjadi upaya minimal kedaulatan pangan di lingkup terkecil: keluarga. Dari sana, kita dapat kembali mengenali proses pangan sekaligus memahami bahwa apa yang kita makan memiliki hubungan erat dengan bumi, tanah, petani, kebijakan pangan, dan kondisi lingkungan.