Wiwitan 2026, Mangerteni Nasibe Wong Tani

Pic by Daru Salam

Celebrithink.com – Secara tradisi, wiwitan merupakan ungkapan syukur kepada Tuhan atas hasil bumi. Dalam tradisi tersebut, masyarakat membawa hasil pertanian sebagai persembahan, berdoa, kemudian makan bersama sebagai bentuk rasa syukur dan harapan agar musim berikutnya kembali memberikan hasil yang baik serta dijauhkan dari hama dan cuaca buruk.

Sanggar Anak Alam (SALAM) kembali menggelar Pesta Wiwitan, sebuah perayaan yang menghidupkan tradisi syukuran panen dan ruang belajar bersama untuk melihat kembali hubungan manusia dengan pangan, alam, dan petani.Mengusung tema “Mangerteni Nasibe Wong Tani”, Pesta Wiwitan 2026 menghadirkan dua agenda utama, yaitu Pasar Pangan pada Jumat, 4 September 2026 dan Wiwitan pada Sabtu, 5 September 2026.

“Wiwitan menjadi ruang untuk mengingat kembali pahlawan yang berada di balik pengadaan pangan tersebut,” ujar salah satu panitia acara Budi S dalam pers rilis yang dikirimkan ke media.

Prosesi Wiwitan ini melibatkan petani dan warga Nitiprayan, keluarga besar SALAM, komunitas, pemerintah setempat, serta berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap kehidupan pertanian dan pangan. Kegiatan juga akan dimeriahkan dengan pertunjukan seni dari berbagai kelompok sebagai bagian dari perayaan bersama. Diawali dengan kirab budaya, upacara Wiwitan yang dipimpin Mbah Kamijo, dan diakhiri dengan makan bersama sebagai ungkapan syukur serta hiburan dari kesenian Warga Nitipryan.

Bagi SALAM, Wiwitan bukan sekadar upacara untuk merayakan hasil panen. Ia menjadi pengingat tentang hubungan manusia dengan Tuhan, alam, dan sesamanya termasuk hubungan antara mereka yang menanam dan mereka yang mengonsumsi.

Melalui Pasar Pangan dan Wiwitan, SALAM mengajak kita untuk tidak berhenti pada rasa syukur ketika makanan sudah tersedia. Lebih jauh, kita diajak mengenali asal pangan, menghargai prosesnya, serta memahami kehidupan petani yang memungkinkan pangan tersebut hadir.

Sebab, sebelum makanan sampai kepada kita, ada tanah yang diperjuangkan, benih yang diupayakan, alam yang dijaga, manusia yang bekerja, dan kebijakan negara yang harus diawasi.

SALAM tak hanya memaknai Tradisi Wiwitan seperti bagaimana petani memaknainya. SALAM juga memaknai Wiwitan sebagai wujud terima kasih pada petani yang hidup, bekerja, dan mengupayakan pangan di sekitar tempat anak-anak bermain. Bagaimana anak-anak di era modern ini masih bisa bersekolah di dekat lahan milik petani Nitiprayan menjadi sebuah privilese dalam pengalaman hidup mereka. Tema “Mangerteni Nasibe Wong Tani” menjadi ajakan untuk warga Salam dan kita semua memahami bagaimana nasib petani hari ini.

Perjalanan pertanian Indonesia sejak lahirnya Undang-Undang Pokok Agraria, program Revolusi Hijau, hingga perkembangan globalisasi membawa berbagai perubahan dalam kehidupan petani. Perubahan sistem pertanian dan pangan tidak selalu berarti kehidupan petani menjadi lebih baik. Persoalan lahan, posisi tawar, sistem produksi, serta berbagai kepentingan yang mengitari pangan membuat pertanyaan tentang kedaulatan petani tetap relevan hingga hari ini.

Di sisi lain, masyarakat perkotaan semakin jauh dari proses menghasilkan pangan. Makanan hadir di pasar, toko, atau meja makan tanpa selalu diketahui siapa yang menanam dan bagaimana prosesnya.

Karena itu, Wiwitan 2026 menjadi kesempatan bagi SALAM untuk mengajak masyarakat sedikit melambat untuk melihat kembali dan memaknai lebih dalam proses tersebut. Setiap makanan memiliki cerita. Pangan tidak tiba-tiba ada. Ada orang yang menanam, merawat, memanen, dan bekerja agar sesuatu yang tumbuh di tanah akhirnya dapat kita makan.

Pesan tersebut juga hadir dalam narasi kaus anak-anak SALAM:

“Saben upa ana crita. Amarga upa ora ujug-ujug ana. Sinau saka sing nandur. Urip saka sing thukul.”
Sementara itu, narasi pada kaus dewasa mengingatkan bahwa persoalan pertanian juga menyangkut kedaulatan petani atas tanah dan kehidupannya: sistem dapat membuat petani kehilangan kuasa atas lahan yang mereka sendiri garap.

Sebelum sampai pada dua agenda utama tersebut, SALAM telah menjalankan sejumlah kegiatan sebagai rangkaian pre-event Pesta Wiwitan 2026.

Melalui Pasar Simbok, para ibu belajar mengembangkan usaha secara kolektif sekaligus menggalang dukungan bagi kegiatan komunitas. Dalam Salam Ngrowot, selepas upacara peringatan kemerdekaan RI ke-81, lapangan SALAM diubah menjadi arena memasak. Setiap kelas mengolah bahan pangan menjadi hidangan makan siang dengan ketentuan menggunakan karbohidrat dari tanaman lokal non-beras, pala kependhem, pala kesimpar, dan pala gumantung. Kegiatan ini menjadi sarana untuk mengenal berbagai bahan pangan sumber karbohidrat yang tersedia di Indonesia sekaligus menunjukkan bahwa pemenuhan energi tidak harus bergantung pada beras.

Populer video

Berita lainnya