Celebrithink.com – Siswa SMP Sanggar Anak Alam (SALAM) Yogyakarta, Anggarakzza Rayyi Pagihari (14 tahun), resmi menggelar pameran fotografi tunggal bertajuk “Terjebak Dalam Waktu” di Kumpeni Coffee & Art Space dari 26 September hingga 23 Oktober 2026. Lewat eksplorasi teknik slow shutter, Rayyi berhasil menyulap dinamika sosial, isu kemanusiaan, hingga pementasan seni tradisional menjadi jejak visual motion blur yang sarat emosi. Gelaran ini menjadi bukti nyata pentingnya ruang ekspresi bebas bagi anak muda untuk menemukan potensi dan jati diri sejak dini.
Pengantar katalog pameran ditulis oleh Andaru A., siswa kelas XI SMA SALAM. Dalam pengantarnya, Andaru menyebut fotografi bagi Rayyi telah berkembang dari sekadar alat untuk merekam gambar menjadi media ekspresi diri yang membebaskan.
Eksplorasi Teknik Slow Shutter Karya Rayyi
Menekuni dunia fotografi sejak kelas IV SD, Rayyi memanfaatkan bukaan rana kamera lambat untuk menangkap ritme gerakan objek dalam rentang waktu lebih panjang.
Alih-alih sekadar menghasilkan foto yang tidak fokus, Rayyi secara cermat memadukan efek blur dengan area gambar yang tetap tajam. Teknik ini menghadirkan kesan gerak dinamis tanpa menghilangkan detail peristiwa penting yang ditangkap oleh lensa kameranya.
Sebanyak enam serial karya utama dipamerkan, masing-masing membawa cerita dan energi peristiwa yang jujur dari kacamata seorang remaja:
- Ketika Dapur Turun ke Jalan: Merekam aksi protes komunitas “Ibu Berisik” yang membenturkan alat dapur terkait kasus keracunan massal program Makan Bergizi Gratis (MBG).
- Jathilan di Ruang Bermain: Mengabadikan latihan seni tradisional anak-anak SALAM secara cair dan menyenangkan.
- Teater “To The Fallen Trees”: Menangkap panggung pementasan dan gestur ekspresif para pemain teater.
- Menangkap Gerakan: Merekam kecepatan dan dinamika pertandingan bulu tangkis di GOR Teratai.
- Life Is Short: Mendokumentasikan aksi pantomim seniman Asita Kaladewa pada gelaran SOWAN.
- CONTROLLED CHAOS: Menampilkan momen interaktif tanpa jarak antara penampil dan penonton di Pentas Ekspresi 26 Tahun SALAM.
Ruang Ekspresi Bebas Pembentuk Jati Diri
Keberanian Rayyi mengadakan pameran tunggal di usia 14 tahun mendapat apresiasi penuh dari Pendiri dan Pembina SALAM, Sri Wahyaningsih. Pendiri sekaligus Pembina Sanggar Anak Alam, Sri Wahyaningsih atau Bu Wahya, mengapresiasi keberanian Rayyi menggelar pameran tunggal di usia muda. Menurutnya, Rayyi mulai menemukan jati diri sekaligus mengembangkan potensi yang dimilikinya.
“Di tengah ketidakpastian dan kecemasan, Rayyi sudah mulai menempatkan jati dirinya dan menemukan potensinya. Usianya baru 14 tahun, tetapi sudah memberanikan diri mengadakan pameran tunggal,” ujar Sri Wahyaningsih saat membuka pameran pada Sabtu (26/9/2026) di Kumpeni Coffee & Art Space, Yogyakarta.
Dalam pameran tersebut, Rayyi menampilkan enam serial karya foto utama yang merekam berbagai peristiwa sosial dan budaya melalui pendekatan visual yang mengandalkan perpaduan gerak, cahaya, dan ketajaman gambar.
Rayyi telah menekuni fotografi sejak duduk di kelas IV SD. Dalam proses berkarya, ia memanfaatkan waktu bukaan rana kamera untuk menangkap jejak gerakan objek dalam satu bingkai.
Sementara itu, Ketua Pewarta Foto Indonesia (PFI) Yogyakarta sekaligus jurnalis foto Kantor Berita ANTARA, Andreas Fitri Atmoko, menilai eksplorasi teknik slow shutter yang dilakukan Rayyi mampu mengubah peristiwa sesaat menjadi pengalaman visual yang mendalam.
“Teknik ini memungkinkan fotografer menangkap detail peristiwa yang tidak bisa dilihat jelas oleh mata manusia dalam kondisi normal. Rayyi menginterpretasikan gerakan sebagai bagian dari bahasa visual untuk membangun cerita, memberikan kesan dramatis, misterius, sekaligus emosional,” papar Andre.