Drama Perfect Crown Viral, Kontroversi Distorsi Sejarah Korea

Pic by IMDB

Celebrithink.com – Awalnya dipuji, kini jadi bahan perdebatan panas. Drama Korea Perfect Crown yang dibintangi IU dan Byeon Woo Seok mendadak jadi topik nomor satu di berbagai forum dan media sosial bukan karena endingnya yang epic, tapi karena tuduhan distorsi sejarah yang makin hari makin ramai.

Dari Pujian ke Polemik

Perfect Crown mengambil latar dunia alternatif di mana Korea Selatan masih berbentuk monarki konstitusional modern. Ceritanya berpusat pada Seong Hui Ju, pewaris keluarga chaebol yang diperankan IU, bersama Grand Prince Ian yang dimainkan Byeon Woo Seok. Di awal penayangan, drama ini menuai pujian karena visual kerajaan yang megah dan akting para pemainnya yang memukau.

Tapi semuanya berubah setelah episode 11 tayang.

Adegan Penobatan yang Jadi Biang Masalah

Polemik bermula dari adegan penobatan Grand Prince Ian yang menampilkan penggunaan istilah “Cheon-se” atau “Cheonse”. Istilah ini dinilai sangat sensitif karena secara historis merujuk pada negara bawahan di bawah Kekaisaran Tiongkok, sementara kerajaan yang berdaulat penuh seharusnya menggunakan istilah “Man-se”.

Tak hanya soal istilah. Banyak netizen Korea juga memperdebatkan bentuk mahkota yang dikenakan Raja Yi Ahn, mahkota itu disebut hanya memiliki sembilan untaian manik-manik, padahal secara historis penguasa berdaulat penuh seharusnya mengenakan mahkota dengan 12 untaian. Adegan ratu janda yang berlutut di hadapan pangeran agung pun dianggap tidak sesuai dengan struktur hierarki kerajaan Joseon. Forum-forum Korea langsung meledak. Banyak yang nyeletuk: “Ini sageuk atau fanfiction?”

Permintaan Maaf Berantai

Gelombang kritik akhirnya memaksa semua pihak angkat bicara. Tim produksi merilis pernyataan resmi pada 16 Mei 2026 untuk mengakui kelalaian mereka dalam mempertimbangkan sensitivitas budaya, dan berjanji merevisi rekaman audio penobatan serta layanan video on demand di berbagai platform streaming.

IU dan Byeon Woo Seok turut menyampaikan permintaan maaf secara terbuka, mengakui bahwa mereka kurang berhati-hati dalam memahami konteks sejarah saat mempersiapkan proyek ini. Sutradara pun ikut minta maaf menyusul setelahnya.

Tetap Jadi Drama Terpopuler

Di balik semua kontroversi itu, pencapaian Perfect Crown secara angka tetap nggak bisa diabaikan. Drama ini mencetak rating di atas 13 persen dan menjadi drama Korea global yang paling banyak ditonton di platform Disney+ dalam 28 hari pertama penayangannya.

Kenapa Orang Korea Sangat Sensitif soal Ini?

Ini bukan sekadar masalah drama. Di Korea, genre sageuk (사극) — yakni drama berlatar kerajaan — bukan hiburan biasa. Ini soal identitas dan kebanggaan nasional. Detail-detail yang digunakan dalam Perfect Crown dianggap merujuk pada masa ketika Korea menjadi negara tributari bagi Dinasti Qing, sesuatu yang langsung menyentuh rasa nasionalisme dan kebanggaan etnis masyarakat Korea.

Buat penonton Indonesia yang mungkin baru tahu soal kontroversi ini, Perfect Crown tetap worth it ditonton. Tapi sekarang kamu tahu kenapa drakor satu ini jadi lebih dari sekadar tontonan biasa.

Populer video

Berita lainnya