Celebrithink.com – Yogyakarta memang identik dengan gudeg nangka muda (tewel). Namun, pernahkah kamu mencicipi Gudeg Bonggol Gedhang? Sajian ini membuktikan bahwa kreativitas kuliner tradisional tidak mengenal batas.
Jika biasanya pohon pisang hanya diambil buah atau daunnya, masyarakat lokal punya cara istimewa untuk menyulap bagian paling bawah dari pohon ini menjadi hidangan yang legit dan kaya rasa.
Gudeg yang Berasal Bukan dari Batang, Tapi Akar
Banyak yang salah kaprah mengira gudeg ini dibuat dari batang pisang (gedebog). Faktanya, bahan utamanya adalah bonggol, yaitu bagian umbi atau pangkal batang yang berada di dalam atau dekat dengan akar.
Memang butuh usaha ekstra untuk mendapatkannya karena harus digali, namun hasilnya sebanding. Tekstur bonggol pisang—terutama dari jenis pisang kepok atau kluthuk—punya serat yang unik: lebih padat dan crunchy (renyah) dibandingkan nangka muda, namun tetap bisa lembut saat dimasak lama.
Cita Rasa yang Menyimpan Kearifan
Proses memasaknya pun tetap setia pada pakem gudeg klasik:
- Dimasak Perlahan: Direbus selama berjam-jam dengan santan kental, gula jawa, dan bumbu rempah lengkap.
- Warna Cokelat Alami: Warna gelapnya didapat dari penggunaan daun jati atau kulit bawang merah dalam proses perebusan.
- Rasa yang Khas: Ada sensasi rasa earthy (khas tanah) yang segar dan sedikit berbeda dari gudeg nangka. Bonggol pisang juga dikenal memiliki kandungan serat yang sangat tinggi, menjadikannya pilihan kuliner yang lebih sehat.
Melestarikan Kuliner “Zero Waste”
Gudeg Bonggol Gedhang adalah pelopor konsep zero waste jauh sebelum istilah itu populer. Di tangan masyarakat desa, bagian pohon yang sering diabaikan ini berubah menjadi comfort food yang dirindukan. Kini, keberadaannya menjadi incaran para pemburu kuliner autentik yang ingin merasakan sisi lain dari kelezatan Jogja.