Celebrithink.com – Buat kamu para Monster Jackers, sebutan fans fanatik band rock Captain Jack, siap-siap dibuat nostalgia parah. Pasalnya, sebuah buku biografi visual terbaru berjudul Setelah Kepalan Tinggi resmi dirilis. Buku ini siap membongkar habis memori kolektif perjalanan karier band asal Yogyakarta ini dari sudut pandang yang sangat intim dan belum pernah terungkap ke publik sebelumnya.
Buku ini merupakan buah karya dari Hendy Winartha, atau yang akrab disapa Kabul. Sosok yang selama belasan tahun setia membersamai setiap jengkal langkah Captain Jack dari balik lensa kamera.
Kurasi Ketat dari Puluhan Ribu Arsip Foto
Sebagai orang dalam yang mengawal lini visual band sejak tahun 2006, Kabul memiliki “harta karun” yang luar biasa melimpah. Ia mengungkapkan bahwa buku Setelah Kepalan Tinggi ini tidak hanya berisi narasi teks, melainkan didominasi oleh arsip foto yang belum pernah dipublikasikan di media mana pun sebelumnya.
Proses pembuatan buku ini pun terbilang sangat masif sekaligus melelahkan. Kabul harus membongkar sekitar 20.000 stok foto jadul yang tersimpan rapi di komputernya. Demi menyajikan konten yang helpful dan memiliki nilai sejarah yang tinggi bagi pembaca, proses filter atau kurasi dilakukan secara ketat sebanyak dua kali, hingga akhirnya menyusut menjadi 250 foto terbaik saja yang berhasil masuk ke lembar cetakan.
“Ada banyak foto-foto saat di studio, ada konflik-konflik kecil yang terekam dalam kamera,” ujar Kabul, sapaannya, saat Lauching Buku di Mili, Jumat (26/6/2026).
Pengakuan Jujur Momo: Banyak Kejadian Bodoh
Di sisi lain, mantan vokalis Captain Jack, Momo, memberikan respons yang sangat jujur sekaligus emosional terkait perilisan buku ini. Momo mengaku sempat merasa ragu dan merasa dirinya serta band belum selayak itu untuk diabadikan dalam sebuah lembaran buku. Terlebih lagi, buku ini turut membongkar beberapa cerita dan ranah privasi mereka ke hadapan umum.
Namun, Momo akhirnya menyadari bahwa sebuah buku akan selalu menjadi referensi berharga bagi orang lain di masa depan. Ia membenarkan semua isi tulisan Kabul, termasuk momen-momen kelam dan keputusan impulsif masa muda mereka. Menariknya, Momo dengan blak-blakan mengakui bahwa ia sudah melupakan sekitar 60 persen kejadian yang tertulis di buku tersebut karena saking lampunya peristiwa itu terjadi.
Bagi Momo, meskipun buku ini merekam banyak “kejadian bodoh” di masa lalu, hal-hal tersebutlah yang justru mendewasakan dan membentuk karakter para personel Captain Jack hingga menjadi bijak seperti sekarang. Buku ini bukan sekadar komoditas komersial, melainkan sebuah mesin waktu bagi siapa saja yang ingin mempelajari dinamika industri musik independen Indonesia secara nyata.