Celebrithink.com – Festival musik elektronik GAUNG GUMAUNG kembali digelar untuk edisi kedua pada 7-13 September 2026, menyebar di sembilan lokasi di Yogyakarta, dari Titik Nol Kilometer, kampung Wijilan, bus yang mengitari kota, sampai hutan bambu di kawasan Merapi.
Sepanjang pekan, lebih dari 40 penampil dari Yogyakarta, Jakarta, Solo, Pacitan, Purworejo, Purwokerto, hingga Melbourne dan Sydney akan tampil dalam program yang dikerjakan bersama delapan belas kolektif/penyelenggara acara. Seperti tahun lalu, GAUNG GUMAUNG 2026 bekerja sama dengan kelompok-kelompok yang konsisten menyelenggarakan acara musik elektronik, menyajikan gathering musisi-musisi hiphop di kawasan Malioboro (bersama Jumat Gombrong), sesi musik dalam kampung (bersama Tuesday Louder), noise bombing dalam bus (bersama Jogja Noise Bombing), hingga perkemahan Sabtu-Minggu dengan musik dansa elektronik dan aktivisme lingkungan (bersama Klub Menepi dan Post Party Syndroma).
Beberapa hal yang membedakan edisi tahun ini: perayaan musik “funky kota” bersama musisi-musisi yang membentuk genre funkot selama 20 tahun terakhir (bersama Prontaxan), sesi musik improvisasi dengan ansambel all-female (bersama Kombo Lab dan Perempuan Komponis: Forum & Lab), dan konser musik klasik-elektronik (bersama Art Music Today). Selain itu, Klub Menepi menutup festival dengan kegiatan penanaman pohon sorghum dan gayam di bekas lahan tambang pasir di kawasan Merapi.
Selama 7-11 September, ada satu titik kumpul: Gaung Diskotek di Langgeng Art Foundation, yang menjadi ruang publik gratis berisi toko rilisan (dikelola komunitas Jogja Record Store Club), listening room (dirancang oleh Suara Dewandaru), dan pameran instrumen elektronik buatan lokal (dikurasi oleh Instrumentasia). Di sini, pengunjung dapat mengikuti lokakarya pembuatan pedal gitar, mengikuti sesi dengar dengan berbagai tamu undangan lokal dan internasional, dan mencoba instrumen-instrumen elektronik buatan seniman Indonesia.