Usulkan Udin Pahlawan Nasional, PWI DIY Bentuk Tim Adhock

Pic by PWI

Celebrithink.com – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) DIY membentuk Panitia Adhoc Pengusulan Wartawan Bernas Fuad Muhammad Syafruddin (Udin) menjadi Pahlawan Nasional. Upaya ini merupakan bagian dari upaya menjaga marwah pers dalam menjaga kebebasan pers. Di mana Udin yang juga anggota PWI dalam menjalankan profesi jurnalistik mengalami kekerasan sampai kehilangan nyawanya.

PWI sudah melakukan berbagai upaya pembelaan dan desakan kepada kepolisian untuk mengungkap pembunuh sebenarnya. Namun sejak kejadian terbunuhnya, belum terungkap siapa pembunuhnya. PWI sudah melakukan gugatan Kepada Polda DIY, namun tidak diterima gugatannya.

Udin meninggal dunia pada 16 Agustus 1996 setelah dianiaya pada 13 Agustus 1996. Kasus Udin menjadi salah satu kasus kekerasan terhadap jurnalis yang paling dikenal dalam sejarah pers Indonesia.
Hingga kini pelaku intelektual maupun pelaku utama pembunuhan belum terungkap secara tuntas.
Udin dikenal aktif menulis laporan investigatif terkait penyelenggaraan pemerintahan dan kebijakan publik di Kabupaten Bantul.

Hasil Konfrensi Provinsi PWI DIY tahun 2025, telah mengamanatkan kepada pengurus untuk memperjuangkan agar Udin mendapat gelar Pahlawan Nasional. Sebagai tindak lanjut, PWI DIY membentuk Tim Adhoc yang diketua Ki Bambang Widodo SPd MPd. Selanjutkan PWI menggelar Rapat Kordinasi (Rakor) Tim Adhoc Pengusulan Gelar Pahlawan Nasional Udin yang digelar di Gedung Pusat Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta, lantai II, Selasa (23/6/2026).

Rakor dibuka oleh Wakil Rektor III UST, Dr Ari Setiawan, M.Pd., dan dihadiri unsur Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) DIY, akademisi, dewan pakar, dewan kehormatan, serta sejumlah tokoh yang akan terlibat dalam proses pengusulan gelar pahlawan nasional bagi Udin.

Ketua PWI DIY Hudono menegaskan bahwa pengusulan Udin sebagai Pahlawan Nasional merupakan amanat Konferensi Provinsi (Konferprov) PWI DIY tahun 2025 dan telah disampaikan dalam forum Konferensi Kerja Nasional (Konkernas) PWI di Banten.

“Ini merupakan amanat organisasi yang harus diperjuangkan bersama. Namun, kita harus menyadari bahwa proses pengusulan gelar pahlawan nasional tidak bisa dilakukan secara singkat. Dibutuhkan kerja keras, waktu yang panjang, serta dukungan berbagai pihak,” kata Hudono.

Menurutnya, Tim Ad Hoc memiliki tugas tidak hanya menyiapkan dokumen pengusulan, tetapi juga memperjuangkan pengungkapan kembali kasus pembunuhan Udin yang hingga kini belum menemukan titik terang. PWI DIY berkepentingan mengawal perjuangan tersebut karena Udin merupakan anggota PWI yang gugur saat menjalankan profesinya sebagai wartawan.

Hudono menjelaskan, hasil Tim Pencari Fakta pada masanya menyimpulkan bahwa Udin dibunuh terkait aktivitas jurnalistiknya. Selama menjadi wartawan Harian Bernas, Udin dikenal kritis terhadap penyelenggaraan pemerintahan di Kabupaten Bantul. Tercatat terdapat sekitar 90 berita kritis yang ditulis Udin terkait kebijakan dan penyelenggaraan pemerintahan daerah.

“Udin jelas menjadi korban kekerasan terhadap kebebasan pers. Sampai hari ini pelaku sebenarnya belum berhasil diungkap secara tuntas. Karena itu perjuangan mengusulkan Udin sebagai pahlawan nasional sekaligus menjadi pengingat bahwa negara memiliki pekerjaan rumah dalam menuntaskan kasus pembunuhan wartawan,” ujarnya.

Hudono berharap seluruh unsur PWI, mulai dari Dewan Kehormatan, Dewan Penasehat, hingga Dewan Pakar dapat menggerakkan dukungan yang lebih luas di tingkat nasional. Menurutnya, gerakan yang masif akan meningkatkan perhatian pemerintah terhadap usulan tersebut.

Sementara itu, Penasehat Tim Ad Hoc, Prof Dr Edy Suandi Hamid, menjelaskan bahwa proses pengusulan gelar pahlawan nasional pada umumnya membutuhkan waktu panjang dan harus didukung kajian akademik yang kuat.

“Jangan berpikir proses ini selesai dalam tiga bulan. Bisa lima tahun atau bahkan lebih. Namun semua perjuangan besar memang harus dimulai,” kata Edy.

Ia mencontohkan sejumlah pengusulan tokoh nasional yang memerlukan tahapan panjang, mulai dari seminar, focus group discussion (FGD), penyusunan buku, pengumpulan dokumen sejarah, hingga penguatan rekam jejak tokoh yang diusulkan. Menurutnya, salah satu aspek penting dalam penilaian adalah adanya jejak sejarah yang terdokumentasi secara kuat dan pengakuan masyarakat terhadap jasa tokoh tersebut.

Untuk itu, Tim Ad Hoc didorong segera menyusun peta jalan pengusulan, termasuk menyiapkan ⁵kajian akademik, menerbitkan buku, menyelenggarakan seminar dan FGD, serta membangun jejaring dukungan dari berbagai kalangan, baik di Yogyakarta maupun tingkat nasional.

Sebagai informasi, Fuad Muhammad Syafruddin atau Udin adalah wartawan Harian Bernas yang meninggal dunia pada 16Agustus 1996 setelah mengalami penganiayaan berat. Kasus kematiannya menjadi salah satu simbol perjuangan kebebasan pers di Indonesia dan hingga kini masih menyisakan tuntutan publik untuk mengungkap pelaku sebenarnya.

Melalui pembentukan Tim Ad Hoc ini, PWI DIY berharap penghormatan terhadap perjuangan Udin dapat diwujudkan melalui pengusulan gelar Pahlawan Nasional, sekaligus memperkuat komitmen bangsa dalam melindungi kemerdekaan pers dan hak masyarakat memperoleh informasi yang benar.

Susunan Paniti Ad Hoc Pengusulan Udin Menjadi Pahlawan Nasional

Penanggung Jawab :
Ketua PWI DIY, Drs. Hudono, SH

Penasehat :
Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec (Sekretaris Dewan Penasehat PWI DIY)
Dr. H. Achiel Suyanto, SH, MH, MBA (Anggota Dewan Pakar DIY)
Dr. TM Luthfi Yazid, SH, LLM (Anggota Dewan Pakar DIY)
Asriel Sutan Marajo, SH (Anggota Tim Pencari Fakta Udin-PWI)
Pemimpin Redaksi SKH Kedaulatan Rakyat
Pemimpin Redaksi Tribun Jogja
Pemimpin Redaksi Harian Jogja
Pemimpin Redaksi Radar Jogja

Ketua :
Ki R Bambang Widodo, S.Pd., M.Pd
Wakil Ketua :
Ainun Najib, Ssi, SH
Sekretaris :
Ahmad Ikwanuddin
Wakil Sekretaris :
Agus Susanto
Bendahara :
Sigit Purwita

Anggota :
Kusno Setiyo Utomo, Ssos, SH, MAP, MH
Ribut Raharjo
Primaswolo Sudjono, SPt
Drs Swasto Dayanto
Yusron Mustaqim
Samento Sihono
Reren Indranila
Neti Istimewa Rukmana
Herry Sidik, SH
Djudiman
Rosihan Anwar

Populer video

Berita lainnya