Celebrithink.com – Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran yang telah berkuasa sejak 1989, dilaporkan wafat pada usia 86 tahun. Kepergiannya terjadi di tengah serangan udara skala besar yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel ke berbagai wilayah strategis di Iran.
Wafatnya Khamenei bukan sekadar hilangnya seorang tokoh, melainkan berakhirnya era kekuasaan teokrasi yang sangat berpengaruh terhadap konstelasi politik di Timur Tengah.
Jejak Kekuasaan: Dari Revolusi hingga Poros Perlawanan
Khamenei naik takhta sebagai Pemimpin Tertinggi pada tahun 1989, menggantikan pendiri Republik Islam, Ayatollah Ruhollah Khomeini. Selama puluhan tahun, ia memimpin sistem teokrasi kompleks yang dikenal sangat ketat dalam menegakkan aturan di dalam negeri.
Di kancah internasional, Khamenei adalah arsitek utama “Poros Perlawanan” (Axis of Resistance), sebuah aliansi anti-Barat yang berupaya menanamkan pengaruh kuat di berbagai negara Timur Tengah. Sosoknya menjadi simbol perlawanan terhadap dominasi Amerika Serikat dan Israel di kawasan tersebut.
Gejolak Ekonomi dan Tragedi Kemanusiaan
Dilansir dari The Guardian, sebelum serangan udara besar-besaran ini terjadi, Iran sebenarnya sudah berada dalam kondisi yang sangat rapuh. Beberapa poin krusial yang melatarbelakangi situasi ini antara lain:
- Kegagalan Diplomasi Nuklir: Upaya AS dan Israel menghancurkan program pengayaan nuklir Iran lewat serangan bom pada Juni 2025 tidak sepenuhnya berhasil, namun memperburuk ketegangan.
- Krisis Ekonomi: Sanksi dan manajemen internal membuat ekonomi Iran terus merosot tajam.
- Protes Berdarah Januari 2026: Rakyat Iran sempat turun ke jalan menentang Republik Islam. Tragedi ini mencatat angka kematian mencapai 30.000 orang, menjadikannya jumlah korban jiwa terbesar dalam sejarah modern Iran.