ArtScience Museum Ajak Jelajahi Hubungan Manusia dengan Alam 

Pic by ArtScience Museum

Celebrithink.com –  Apa yang dapat kita pelajari dari kecerdasan dan keunikan alam? Bagaimana kolaborasi antara manusia dan alam melalui desain dapat membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik bagi seluruh makhluk hidup dan planet ini? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi inspirasi di balik More than Human: Making With the Living World, pameran istimewa ArtScience Museum yang dibuka pada 28 November. Menghadirkan beragam gagasan inovatif dan solusi yang terinspirasi dari alam, pameran ini mengajak pengunjung untuk melihat tumbuhan, hewan, dan ekosistem bukan sekadar sebagai bagian dari lingkungan, melainkan sebagai mitra dalam menciptakan cara hidup yang lebih bijaksana dan berkelanjutan.

Menandai debut perdananya di Asia, More than Human menghadirkan lebih dari 140 karya seni, proyek, instalasi imersif, dan pengalaman interaktif dari hampir 55 seniman, desainer, arsitek, peneliti, serta komunitas. Memadukan seni, desain, sains, dan teknologi, pameran ini mengajak pengunjung membayangkan masa depan ketika manusia dan berbagai spesies lainnya dapat hidup berdampingan secara harmonis dan berkembang bersama. Pameran ini pertama kali dikembangkan oleh Design Museum di London bekerja sama dengan Future Observatory, program riset nasional yang berfokus pada transisi menuju masa depan yang lebih ramah lingkungan, dengan dukungan UKRI Arts and Humanities Research Council (AHRC). Untuk penyelenggaraannya di Singapura, pameran ini semakin diperkaya dengan 25 karya tambahan yang dikurasi bersama oleh ArtScience Museum, dengan dukungan DesignSingapore Council. Karya-karya tersebut menghadirkan perspektif khas Asia, termasuk kekayaan tradisi budaya dan kearifan lokal yang menawarkan cara pandang beragam dalam memahami hubungan manusia dengan alam.

“Di ArtScience Museum, kami senantiasa merayakan rasa ingin tahu dan kreativitas manusia, yang keduanya dapat terus tumbuh melalui inspirasi dari kekayaan alam dan seluruh kehidupan di dalamnya. Karena itu, penting bagi kami untuk menghadirkan sudut pandang khas kawasan ini dalam pameran tersebut. Melanjutkan konsep awal yang dikembangkan oleh Design Museum, kami memperkaya pameran ini dengan beragam perspektif dan pengetahuan dari Singapura serta Asia Tenggara. Melalui pendekatan ini, kami ingin menghubungkan gagasan yang diangkat dalam pameran dengan cara masyarakat di kawasan ini memahami, menghargai, dan hidup berdampingan dengan alam,” ujar Angelita Teo, Vice President of Attractions di Marina Bay Sands.

Justin McGuirk, Direktur Future Observatory, mengatakan, “Pameran More than Human menyoroti berkembangnya gerakan seni dan desain yang berkomitmen untuk menjaga kelestarian sekaligus mendukung keberlangsungan ekosistem alam yang menjadi penopang kehidupan kita. Berbagai karya yang dihadirkan mengeksplorasi bagaimana manusia dapat memulihkan hubungan dengan alam yang selama ini telah mengalami kerusakan. Meski sebagian besar karya masih berada dalam tahap awal pengembangan atau eksplorasi, semuanya mencerminkan perubahan mendasar dalam cara pandang manusia terhadap peran desain. Desain tidak lagi semata-mata berfokus pada pemenuhan kebutuhan manusia, tetapi juga diarahkan untuk mendukung keberlangsungan spesies lain beserta ekosistemnya. Inilah arah perkembangan desain yang dibutuhkan pada abad ke-21.”

“Desain memiliki kekuatan untuk mengubah bukan hanya cara kita memandang dunia, tetapi juga bagaimana kita menjalani kehidupan di dalamnya. Terobosan yang paling bermakna sering kali berawal dari perubahan cara pandang. Melalui More than Human, kita diajak untuk memaknai kembali hubungan dengan alam dan meninjau ulang cara hidup berdampingan dengan spesies lain, demi menciptakan masa depan yang memungkinkan seluruh bentuk kehidupan tumbuh dan berkembang bersama. Kami bangga dapat mendukung penyelenggaraan pameran ini di Singapura dalam edisi yang lebih luas, dengan menghadirkan perspektif Asia untuk memperkaya pemahaman mengenai peran desain yang tidak hanya berpusat pada kebutuhan manusia, tetapi juga mempertimbangkan keberlangsungan alam dan seluruh kehidupan di dalamnya,” ujar Dawn Lim, Direktur Eksekutif DesignSingapore Council.

Terbagi ke dalam tiga bagian tematik, More than Human menghadirkan pengalaman eksplorasi melalui ruang pamer yang dirancang oleh Lekker Architects, firma arsitektur asal Singapura. Terinspirasi dari labirin semak, gugusan pulau, hingga lanskap hutan, setiap ruang dirancang untuk mengajak pengunjung menyelami hubungan antara manusia dan alam dari berbagai perspektif. Salah satu karya yang menjadi sorotan adalah Berl-Berl karya Jakob Kudsk Steensen, instalasi audiovisual imersif berskala besar yang membawa pengunjung menjelajahi lanskap lahan basah digital yang terus berubah, terinspirasi dari bentang alam yang dahulu membentuk wilayah Berlin. Pengunjung juga dapat menyaksikan How to Carve a Sculpture karya Aki Inomata, yang mengolah kayu bekas gigitan biwara (beaver) menjadi karya seni yang mengundang refleksi tentang apakah kreativitas merupakan kemampuan yang hanya dimiliki manusia. Sementara itu, Pollinator Pathmaker: Perceptual Field 7SzzLn6GnY97DSo7hCSLMf karya Alexandra Daisy Ginsberg hadir dalam bentuk karya tapestri sepanjang delapan meter yang menggambarkan taman yang dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan berbagai spesies penyerbuk.

Edisi Singapura ini semakin diperkaya dengan beragam perspektif khas Asia Tenggara melalui karya-karya baru maupun adaptasi dari sejumlah seniman dan kolaborator, antara lain Bewilder, Lêna Bùi, Ines Katamso, Khvay Samnang, Zarina Muhammad, Isa Pengskul, Citra Sasmita, Studio SKLIM, Superlative Futures, serta thesupersystem & VAAS. Pameran ini juga melibatkan berbagai institusi lokal melalui kolaborasi dan peminjaman koleksi, termasuk National Parks Board (NParks), Experimental Marine Ecology Laboratory dari National University of Singapore (NUS EMEL), dan Asian Civilisations Museum.

Populer video

Berita lainnya