Benarkah PRPP Jateng Fair Redup? Netizen Sebut Mirip Pasar Malam

ilustrasi by pexels/musik

Celebrithink.com – Bagi generasi 90-an hingga awal 2000-an, mendengar kata PRPP (Pusat Rekreasi dan Promosi Pembangunan) Jawa Tengah atau event akbar Jateng Fair pasti langsung bikin nostalgia parah. Dulu, pameran tahunan ini adalah puncak hiburan warga Semarang dan sekitarnya. Kemegahannya bahkan digadang-gadang hampir setara dengan Jakarta Fair (PRJ).

Namun, roda berputar. Banyak warga Semarang yang mengeluhkan kondisi terkini aset prestisius tersebut. Alih-alih menjadi pusat etalase budaya dan ekonomi modern, Jateng Fair dinilai mengalami downgrade drastis hingga disebut netizen hanya selevel pasar malam kabupaten.

Kenangan Era Emas yang Sulit Terulang

Pada masa kejayaannya, Jateng Fair adalah magnet ekonomi yang luar biasa. Setiap anjungan daerah dari berbagai kabupaten/kota di Jawa Tengah berlomba-lomba memamerkan potensi terbaik mereka, mulai dari komoditas pangan, kerajinan tangan, hingga inovasi teknologi lokal. Konser musiknya pun selalu menghadirkan band-band papan atas nasional yang memicu antrean mengular di loket tiket.

Sayangnya, pesona itu perlahan memudar. Pengunjung yang datang belakangan ini sering kali pulang dengan rasa kecewa. Banyak fasilitas anjungan yang tampak terbengkalai, kurang terawat, dan minim inovasi digital. Pengemasan acaranya pun dinilai monoton dan kalah saing dengan festival-festival musik atau creative market kekinian yang marak diinisiasi oleh anak muda di pusat kota.

Alasan Logis di Balik Stagnasi PRPP

Mengapa event sekelas provinsi ini bisa meredup? Jika dianalisis dengan penalaran kritis, ada pergeseran perilaku konsumen yang gagal diantisipasi oleh pengelola. Generasi sekarang lebih menyukai ruang komunal yang interaktif, estetik (instagramable), dan terintegrasi dengan teknologi digital. Ketika Jateng Fair masih bertahan dengan pola manajemen konvensional, otomatis ia akan kehilangan relevansinya di mata Gen Z dan Milenial.

Selain itu, faktor infrastruktur dan zonasi juga memegang peranan penting. Akses mobilitas yang kurang terintegrasi serta minimnya kurasi terhadap stan-stan UMKM yang mengisi area pameran membuat atmosfernya kehilangan kesan premium. Akibatnya, alih-alih merasakan vibes pameran pembangunan yang megah, pengunjung justru merasa seperti mendatangi pasar malam biasa dengan tiket masuk yang dinilai kurang worth it.

Solusi Kreatif untuk Mengembalikan Kejayaan

PRPP Jawa Tengah sebenarnya memiliki modal budaya dan histori yang terlalu berharga untuk dibiarkan mati suri. Untuk mengembalikan posisinya sebagai etalase ekonomi yang prestisius, dibutuhkan langkah revitalisasi total yang radikal. Pengelola harus mulai membuka diri untuk berkolaborasi dengan komunitas kreatif lokal.

Konsep pameran linier yang membosankan harus diubah menjadi ekosistem kolaboratif yang interaktif. Misalnya, dengan mengintegrasikan pameran budaya menggunakan teknologi Augmented Reality (AR), menghadirkan kompetisi e-sports, hingga mengurasi kuliner legendaris Jawa Tengah dalam satu kawasan yang dikemas modern. Dengan sentuhan inovasi yang tepat, Jateng Fair pasti bisa bangkit dari tidur panjangnya dan kembali menjadi kebanggaan masyarakat Jawa Tengah.

Populer video

Berita lainnya