Celebrithink.com – Kontroversi keterlibatan Didit Hediprasetyo Foundation (DHF) dalam ARTJOG 2026 mungkin akan segera berlalu, sama seperti polemik seni lainnya yang pernah ada. Namun, keriuhan ini justru membuka ruang refleksi yang lebih dalam mengenai posisi ARTJOG itu sendiri di mata publik.
Kurator seni senior, Rain Rosidi, memberikan pandangan yang sangat menarik melalui tulisannya yang berjudul “Momentum Mendegradasi ARTJOG”. Menurutnya, polemik yang terjadi saat ini bisa jadi merupakan sebuah sinyal bahwa sudah saatnya kita “mendegradasi” posisi ARTJOG dalam imajinasi publik.
Bukan Merendahkan, Tapi Mengembalikan Proporsi yang Sehat
Dilansir dari laman jelata.co, kata “mendegradasi” yang dilontarkan Rain Rosidi sama sekali bukan bertujuan untuk merendahkan kualitas ARTJOG atau menutup mata dari kontribusi besarnya selama ini. Justru sebaliknya, usul ini muncul karena ARTJOG dinilai terlalu berhasil. Saking suksesnya, perhelatan ini perlu dikembalikan ke proporsi yang lebih seimbang dan sehat bagi ekosistem seni secara keseluruhan.
Selama hampir dua dekade, ARTJOG telah menjelma menjadi primadona sekaligus pusat gravitasi dunia seni rupa Indonesia. Ketika pameran ini digelar, seluruh elemen, mulai dari kolektor, kurator, akademisi, media, hingga wisatawan budaya otomatis mengalihkan fokusnya ke Yogyakarta. Bahkan, galeri-galeri independen dan komunitas budaya lain ikut membuat agenda sampingan demi memanfaatkan momentum magnetis dari ARTJOG.
Efek Samping Menjadi ‘Pusat Gravitasi’ Seni
Keberhasilan luar biasa ini tentu tidak bisa disangkal. Namun, Rain mengingatkan bahwa setiap pusat gravitasi yang terlalu besar selalu membawa efek sampingnya sendiri.
- Representasi Tunggal: Publik memiliki kecenderungan kuat untuk menganggap apa pun yang disajikan di ARTJOG adalah representasi mutlak dari wajah seni rupa nasional saat ini.
- Standar Kepentingan: Siapa seniman yang lolos pameran dianggap yang paling penting, dan siapa tokoh yang membuka acara dinilai memiliki makna simbolis yang teramat besar.
- Konsekuensi Politik: Pilihan sponsor maupun lembaga pendukung (seperti yang terjadi pada polemik DHF tahun ini) langsung diseret ke dalam pusaran konsekuensi politik yang sangat luas oleh masyarakat.
ARTJOG Bukan Seni Rupa Indonesia Secara Keseluruhan
Poin krusial yang digarisbawahi oleh Rain Rosidi adalah kenyataan bahwa ARTJOG bukanlah seni rupa Indonesia secara keseluruhan. ARTJOG hanyalah salah satu peristiwa seni yang penting, tetapi bukan satu-satunya ruang yang menentukan hidup matinya denyut nadi seni rupa nasional.
Seni rupa Indonesia yang sesungguhnya tumbuh subur dan hidup di tempat-tempat yang jauh dari sorotan kamera media besar; di studio-studio kecil para seniman, ruang-ruang alternatif, koridor kampus, komunitas warga, hingga kolektif seniman independen di berbagai daerah.
Ekosistem seni yang ideal dan kuat tidak boleh bergantung hanya pada satu pusat atau satu institusi saja, melainkan harus ditopang oleh banyak pusat (multisentris). Oleh karena itu, mengurangi ketergantungan imajinasi publik terhadap ARTJOG adalah langkah awal yang bijak untuk mengapresiasi keragaman seni rupa Indonesia secara lebih adil dan merata.