Celebrithink.com – Yogyakarta selalu menyimpan narasi yang tak pernah selesai dibaca. Di antara gema tradisi, riak gelombang pantai selatan, hingga kilau kobaran api dalam seni pertunjukan malam hari, setiap sudut kota ini menyimpan potongan kisah yang menunggu untuk direkam. Menelusuri lanskap budaya dan keindahan alam yang begitu kaya membutuhkan kawan perjalanan yang tak sekadar andal dalam performa, melainkan juga mampu menangkap emosi visual secara utuh dan mendalam. Lewat eksplorasi visual bersama Xiaomi 17T Pro, setiap detil cerita di Tanah Jawa ini terabadikan secara presisi.
“Eksplorasi visual di tempat bermakna seperti Yogyakarta membuktikan bahwa Xiaomi 17T Pro dirancang untuk menemani para pencerita visual. Ditenagai sistem kamera Leica generasi terbaru dan performa flagship yang kencang, pengguna bisa menangkap atmosfer otentik dan tekstur cerita dimanapun mereka berada tanpa kompromi, menjadikannya kawan travelling yang sempurna,” ujar Andi Renreng, Marketing Director Xiaomi Indonesia.
Eksplorasi dimulai dengan menelisik keanggunan busana dan aura tradisional Jawa yang terpancar dari tatapan mata dan lekuk detail kebaya. Menggunakan kekuatan lensa telefoto Leica 115mm (5x optical zoom) dan aperture besar f/1.67, tekstur kain batik yang rumit serta riasan halus terpotret begitu tegas tanpa kehilangan kelembutan alami kulit. Kedalaman ruang (depth-of-field) khas optik Leica menghadirkan efek bokeh alami yang memisahkan subjek dari latar dinding kayu kuno secara halus. Bahkan ketika dibingkai melalui celah pagar kayu tua, ketajaman fokus tetap terkunci presisi pada kerlingan mata subjek, membuktikan keandalan sistem fokus cepat dalam merekam ekspresi yang penuh cerita.
Ketika malam berlabuh di pelataran Candi Prambanan, dinamika Seni Pertunjukan Sendratari Ramayana menjadi ujian nyata bagi performa low-light dan dynamic range Xiaomi 17T Pro. Di tengah temaram malam yang dihiasi kobaran api panggung, kamera utama mampu menangkap kontras dramatis antara bayangan candi yang megah dan pendar merah membara dari nyala api tanpa menghasilkan over-exposure. Tak hanya itu, kecepatan shutter dan algorithms pengolahan citra Leica mampu membekukan percikan bunga api (fire sparks) yang melayang di udara saat aksi tari heboh berlangsung, menghasilkan siluet penari yang tajam dan dinamis di tengah pendar cahaya yang magis.