Farid Gaban: Pertanian Fondasi Ketahanan Pangan Nasional

Pic by pexels

Celebrithink.com – Pertanian modern bukan lagi sekadar urusan cangkul dan lumpur di sawah, melainkan ekosistem agribisnis luas yang mencakup teknologi pengolahan pangan, rantai distribusi, hingga strategi pemasaran digital. Bagi generasi muda, sektor ini menyimpan potensi ekonomi yang sangat besar melalui hilirisasi dan diversifikasi produk pangan lokal.

Menurut penulis buku Reset Indonesia, Farid Gaban, sektor pertanian merupakan fondasi ketahanan pangan nasional yang menawarkan peluang karier lintas disiplin, mulai dari akuntansi, sains, hingga manajemen bisnis.

“Banyak orang masih menganggap pekerja pertanian harus selalu berpanas-panasan di bawah terik matahari. Padahal, cakupan agribisnis jauh lebih luas dari itu,” ujarnya ditemui usai diskusi di Sanggar Anak Alam (Salam) Yogyakarta, Kamis (24/9/2026).

Sektor pertanian modern membutuhkan berbagai keahlian profesional untuk berkembang secara efektif, di antaranya:

  • Manajemen & Akuntansi: Mengelola efisiensi operasional dan arus kas bisnis tani.
  • Sains & Teknologi: Meneliti metode pengolahan tanah, pemuliaan tanaman, hingga otomatisasi lahan.
  • Pemasaran Digital: Membangun branding produk dan membuka akses pasar langsung ke konsumen.

Sektor ini terbukti inklusif karena dapat menyerap tenaga kerja dari berbagai rentang usia dan latar belakang pendidikan.

Solusi Cuan Pertanian Lewat Nilai Tambah Pangan

Salah satu tantangan utama yang kerap dihadapi para pelaku usaha tani adalah rendahnya pendapatan jika hanya mengandalkan penjualan hasil panen mentah. Solusi terbaik untuk mengatasi masalah ini adalah dengan menerapkan pengolahan hasil tani atau hilirisasi.Beberapa contoh kreasinya antara lain:

  1. Pengeringan Sayuran: Mengolah sayuran segar menjadi sayuran kering (dehydrated vegetables) agar lebih awet dan mudah didistribusikan.
  2. Pengolahan Rempah: Mengubah empon-empon mentah menjadi produk minuman kesehatan siap seduh berkemasan modern.
  3. Pemberian Nilai Tambah Buah: Mengolah buah segar menjadi keripik atau olahan organik dengan daya simpan lebih lama.

Mengapa Harus Kembali ke Pangan Lokal?

Ketergantungan pada satu jenis bahan pangan utama membuat ketahanan pangan menjadi rentan. Indonesia memiliki kekayaan hayati yang sangat melimpah dan beragam di setiap daerah.

Sejak puluhan tahun lalu, keberagaman ini telah terdokumentasi dengan baik. Buku resep Mustika Rasa yang diprakarsai Presiden Soekarno pada tahun 1967 memuat lebih dari 1.600 resep masakan khas dari berbagai penjuru Nusantara. Hal ini membuktikan bahwa sumber pangan lokal seperti jagung, ubi, sago, dan rempah-rempah memiliki potensi besar untuk diangkat kembali menjadi gaya hidup pangan yang modern dan berkelanjutan.

Pertanian adalah sektor bisnis yang sangat dinamis. Dengan keterlibatan generasi muda dalam inovasi pengolahan dan tata kelola agribisnis, kedaulatan pangan lokal dapat terwujud secara berkelanjutan.

Populer video

Berita lainnya