Celebrithink.com – Sri Sultan Hamengku Buwono X menggelar prosesi sebar udhik-udhik di kompleks Pagongan Masjid Gedhe Kauman sebagai puncak tradisi Hajad Dalem Sekaten. Ritual pembagian sedekah raja berupa koin, beras kuning, biji-bijian, dan bunga ini menandai prosesi Kondur Gangsa atau kembalinya Gamelan Sekati ke dalam lingkungan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Tradisi tahunan memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW ini selalu dinanti ribuan warga karena sarat nilai budaya, sejarah, serta keberkahan hidup.
Makna Tradisi Udhik-Udhik Raja Jogja
Prosesi sebar udhik-udhik bukan sekadar acara bagi-bagi uang kepada masyarakat umum, melainkan simbol kemakmuran dan kepedulian pemimpin kepada rakyatnya. Sri Sultan HB X menyerahkan sedekah ini secara langsung di Pagongan Lor dan Pagongan Kidul Kompleks Masjid Gedhe.
Tradisi bersejarah ini memuat simpul nilai spiritual dan filosofi hidup Jawa yang sangat mendalam:
- Penyebaran Kesejahteraan: Raja membagikan sebagian rezeki kerajaan kepada rakyat sebagai bentuk syukur atas limpahan berkah.
- Penanda Kondur Gangsa: Ritual ini menjadi penutup resmi dari rangkaian membunyikan Gamelan Sekati Kanjeng Kiai Gunturmadu dan Kanjeng Kiai Nagawilaga.
- Pelestarian Nilai Luhur: Menjaga warisan budaya takbenda agar tetap relevan dan dipahami oleh generasi muda era digital.
Empat Bahan Utama Racikan Udhik-Udhik
Ramuan udhik-udhik yang disebarkan tidak diracik secara sembarangan, melainkan memiliki komposisi simbolis dengan makna filosofis yang kuat. Setiap elemen melambangkan doa-doa keselamatan, pangan, dan keharuman nama baik bagi siapapun yang menerimanya.
Berikut adalah empat komponen utama yang terdapat dalam racikan udhik-udhik raja:
- Uang Logam (Koin): Simbol rezeki finansial, kelancaran nafkah, serta kecukupan ekonomi harian.
- Beras Kuning: Campuran beras dan kunyit yang melambangkan kemakmuran pangan, kemuliaan, serta kesuburan tanah.
- Biji-bijian Pilihan: Menggambarkan benih kehidupan, empon-empon, dan harapan akan pertumbuhan hal-hal baik.
- Bunga Ornamen: Kelopak bunga beraroma wangi sebagai simbol keluhuran budi, keharmonisan, serta nama baik.
Filosofi Sekaten dan Antusiasme Publik
Rangkaian Hajad Dalem Sekaten memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW Tahun Be 1960 ini terbukti selalu sukses menyedot perhatian wisatawan lokal maupun mancanegara. Masyarakat dari berbagai daerah rela berdesakan di sekitar pelataran masjid demi mendapatkan berkah dari racikan udhik-udhik yang disebar sang Raja.
Antusiasme tinggi ini membuktikan bahwa tradisi klasik kerajaan masih memiliki daya tarik emosional yang sangat kuat di tengah arus modernisasi. Kebudayaan lokal Jogja tetap lestari karena mampu menyatukan nilai religi, sejarah, dan keguyuban sosial secara harmonis.