Celebrithink.com – Seniman kontemporer Andry “Boy” Kurniawan dipercaya mengerjakan wajah visual
Repelita Musik. Karya-karyanya dihuni figur berkepala bundar, tubuh kenyal, warna menyala, serta dunia ganjil yang mempertemukan humor, kegelisahan, dan fantasi. Bahasa visual itu sejalan dengan Cherrypop yang gemar mengolah persoalan serius menjadi perayaan pop yang riuh dan mudah didekati.
Di atas panggung, salah satu peristiwa penting akan hadir melalui Objek Vital Nasional (OVN), proyek perdana yang mempertemukan FSTVLST dan Jenny. Dua riwayat musik dilebur dalam satu tubuh pertunjukan, ditemani puluhan penampil dari berbagai kota, generasi, dan aliran selama dua hari perayaan.
Lima tahun setelah gaung pertama dibunyikan di Alpha Bravo, Cherrypop tiba di kaki Candi Prambanan dan dipersembahkan oleh Bank BRI, perhelatan kelimanya akan diselenggarakan pada 22 dan 23 Agustus 2026 dengan tema Repelita Musik, kependekan dari Rekreasi, Peristiwa, Lima Tahun Musik.
Istilah “Repelita” membawa gema masa lalu, ketika pembangunan disusun dalam rencana lima tahunan dan masa depan dipercaya dapat ditata melalui tabel, angka, serta pidato panjang. Cherrypop meminjam bunyinya untuk menyusun rencana lain: mengingat manusia, perjumpaan, dan pengalaman yang tumbuh selama lima tahun festival.
Sejak Panic Room, Swasembada Musik, Selamet Bermusik, hingga Gelanggang Musik, Cherrypop konsisten membaca sejarah sosial-politik melalui kebudayaan populer. Kata-kata besar diturunkan dari mimbar, dibawa ke lapangan, lalu dipertemukan dengan orang-orang yang menonton konser sambil duduk di rumput.
Di tangan Cherrypop, sejarah tak hanya tersimpan dalam buku pelajaran. Ia dapat berbunyi melalui gitar yang sumbang, poster yang ditempel miring, kaset yang kusut, dan ribuan pasang kaki yang berderap menuju panggung. Rekreasi, sebab festival seharusnya terasa seperti liburan. Orang perlu berhenti
sejenak dari rutinitas yang makin gaduh, duduk di rerumputan, berjalan tanpa tergesa, dan mendengarkan musik tanpa merasa sedang mengejar sesuatu.
Perpindahan ke kawasan Prambanan menjadi usaha memberi ruang yang lebih lapang bagi pengalaman tersebut. Orang boleh datang untuk band kesukaannya, lalu tersesat menuju pertunjukan yang tak dikenalnya dan pulang membawa kesukaan baru. Peristiwa, sebab Cherrypop selalu menghendaki dirinya sebagai titik temu. Di sana, subkultur, komunitas, musisi, perupa, sineas, pedagang rilisan, pembuat kaus,
penulis, pengarsip, keluarga, dan masyarakat umum saling berpapasan. Musik hanyalah alasan pertama untuk datang. Setelah itu, segala kemungkinan dapat terjadi: kawan lama ditemukan, kerja sama dimulai, pertengkaran diselesaikan, band dibentuk, gagasan dicatat di belakang tiket, atau cinta tumbuh di dekat penjual makanan dan minuman.