Celebrithink.com – Di saat proyek viral seperti The Backrooms dan Obsession berhasil melahirkan generasi baru sineas Hollywood yang sukses melompat dari media sosial ke layar lebar, industri film global kini mulai melirik revolusi format baru yang tak kalah radikal: drama vertikal.
Format video tegak lurus yang awalnya hanya digunakan untuk konten santai di TikTok atau Reels, kini telah bertransformasi menjadi industri sinema baru yang sangat menguntungkan. Padahal, jika menengok ke belakang, upaya untuk mengawinkan kualitas Hollywood dengan layar smartphone sempat menjadi salah satu kegagalan bisnis terbesar dalam sejarah modern.
Tragedi Quibi: Ambisi US$1,75 Miliar yang Kandas dalam 6 Bulan
Kenyataannya, konsep serial TV yang dirancang khusus untuk dinikmati lewat ponsel pintar bukanlah hal baru. Pada tahun 2020 silam, sebuah platform streaming berdurasi pendek bernama Quibi resmi diluncurkan di Amerika Serikat.
Platform ini tidak main-main dalam mempersiapkan diri. Quibi berhasil mengumpulkan pendanaan raksasa yang dilaporkan mencapai US$1,75 miliar (sekitar Rp27 triliun) dan menggandeng sederetan sutradara serta talenta papan atas Hollywood, termasuk nama-nama besar sekelas Steven Spielberg dan Guillermo del Toro. Namun, akibat salah membaca momentum pandemi dan kekakuan sistem platformnya, Quibi terpaksa gulung tikar dan ditutup hanya enam bulan setelah peluncuran resminya.
Dari China ke Dunia: Ledakan Fenomena Duanju
Di saat konsep video pendek Hollywood gagal total di Amerika Serikat, kisah yang berbanding terbalik justru terjadi di China. Alih-alih mengandalkan nama besar sutradara, format drama pendek di China lahir dan tumbuh secara organik dari akar rumput komunitas fan-fiction dan literasi digital.
Format inilah yang melahirkan istilah Duanju (drama pendek/mikro), yang mempopulerkan format drama vertikal berdurasi 1 hingga 2 menit per episode yang kita kenal sekarang. Karakteristik Duanju sangat kontras dengan Quibi; mereka fokus pada alur cerita yang cepat, penuh konflik dramatis yang intens, mengandalkan cliffhanger (akhir cerita yang menggantung) di setiap menitnya, dan diproduksi dengan biaya yang jauh lebih efisien.
Strategi ini terbukti sangat sukses memikat generasi smartphone. Pada tahun 2026 ini, nilai pasar Duanju diperkirakan melonjak drastis hingga menyentuh angka US$9 miliar (sekitar Rp145 triliun). Angka yang sangat fantastis ini bahkan resmi melampaui total seluruh pendapatan box office bioskop konvensional di China pada tahun 2024 lalu.
Masa Depan Sinema di Genggaman Tangan
Keberhasilan Duanju kini tidak lagi terbatas di dalam negeri China. Format drama vertikal pendek ini telah mengekspansi pasar internasional secara masif, termasuk ke Asia Tenggara dan Amerika Serikat melalui berbagai aplikasi micro-drama global yang mulai bersaing ketat.
Industri film dunia kini harus mengakui bahwa lanskap hiburan telah bergeser. Menonton film tidak lagi selalu soal duduk diam di dalam gedung bioskop yang gelap atau di depan TV ruang tamu, melainkan tentang bagaimana menikmati sebuah cerita yang runut, menegangkan, dan emosional, langsung dari genggaman satu tangan di sela-sela kesibukan harian.