Hanung Bramantyo: Sepatu sebagai Simbol Kesehatan dan Empati

Pic by IMDB

Celebrithink.com – Sutradara kawakan Hanung Bramantyo kembali menggebrak industri perfilman tanah air dengan proyek yang anti-arus utama. Di tengah gempuran tontonan modern, ia memilih memproduksi film anak-anak dengan latar waktu tahun 1988. Keputusan memilih setting era 80-an ini sengaja diambil demi mengeliminasi total aspek gawai seperti handphone dan internet dari alur cerita. Mengambil lokasi syuting di SD Muhammadiyah, film ini ingin membuktikan bahwa kisah anak-anak tanpa interaksi dunia maya sebenarnya masih sangat relevan dan mahal maknanya untuk dinikmati penonton masa kini.

“Berharap film ini mendapatkan dukungan dari masyarakat. Film untuk anak-anak tidak banyak, makanya butuh dukungan agar bisa membuat film seperti ini. Berharap Muhammadiyah bisa mengkoneksikan ke masyarakat agar bisa menonton film ini,” ujarnya dalam Screening Film di Yogyakarta, Rabu (20/5/2026).

Pic by Celebrithink

Sepatu Sebagai Simbol Kesehatan dan Empati Sosial

Narasinya menyoroti realitas sosial yang jujur, di mana pada era tersebut banyak anak kesulitan memiliki sepasang sepatu sekolah karena dianggap tidak penting oleh orang tua. Padahal, sepatu bukan sekadar alas kaki estetik, melainkan instrumen kesehatan krusial sebagai tumpuan seluruh tubuh anak saat beraktivitas. Tim produksi berkolaborasi dengan platform Kitabisa untuk menggelar charity pembagian sepatu gratis. Gerakan sosial ini juga menyasar anak-anak kurang mampu agar mereka bisa merasakan pengalaman menonton bioskop secara inklusif.

Pendidikan Karakter dan Komitmen dari Muhammadiyah

Langkah konkret Hanung ini mendapat apresiasi penuh dari Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah. Ketua LSB PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, M.P., menyatakan bahwa pihak Muhammadiyah selalu serius dalam mengawal dunia edukasi agar melahirkan generasi yang multitalenta. Menurutnya, inti utama dari film ini adalah tentang komitmen dan tanggung jawab sejak dini. Melihat bagaimana anak-anak SD di masa lalu memegang teguh janji mereka merupakan bentuk nyata dari penanaman pendidikan karakter yang mulai langka ditemukan pada ekosistem digital zaman sekarang.

Mengingat jumlah film anak-anak yang bermutu dan mendidik masih sangat minim di pasar domestik, sinergi antara sineas dan masyarakat luas sangat dibutuhkan. Harapannya, jaringan luas Muhammadiyah dapat membantu mengkoneksikan film ini langsung ke masyarakat agar pesan kebaikan serta edukasinya tersampaikan secara masif. Yuk, kita dukung kebangkitan film anak Indonesia dengan menontonnya langsung di bioskop terdekat!

Populer video

Berita lainnya