Celebrithink.com – Dunia pendidikan tinggi kembali dihebohkan dengan isu sensitif. Kali ini, sorotan tertuju pada mahasiswa Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM) Institut Teknologi Bandung (ITB) setelah sebuah lagu berjudul “Erika” yang mereka ciptakan dan sebarkan di media sosial memicu reaksi keras dari netizen.
Meski awalnya mungkin dianggap sebagai bagian dari dinamika internal mahasiswa, publik menilai lirik lagu tersebut telah melewati batas karena mengandung unsur pelecehan seksual verbal terhadap perempuan.
Bukan Sekadar Nyanyian, Tapi Soal Perspektif
Lagu “Erika” ini menjadi viral setelah beberapa potongan videonya tersebar di berbagai platform. Banyak pihak, mulai dari aktivis kesetaraan gender hingga alumni, menyayangkan narasi dalam lirik tersebut yang dinilai merendahkan martabat perempuan dan menjadikannya objek seksual.
Kritik utama yang muncul adalah:
- Normalisasi Pelecehan: Penggunaan kata-kata yang menjurus ke arah seksual dalam lagu dianggap menormalisasi budaya pelecehan di lingkungan akademik yang seharusnya inklusif.
- Citra Mahasiswa Teknik: Kejadian ini kembali memicu diskusi soal budaya maskulinitas toksik (toxic masculinity) yang terkadang masih melekat di fakultas-fakultas dengan dominasi pria.
- Tanggung Jawab Digital: Mahasiswa sebagai kaum intelektual dianggap kurang bijak dalam membedakan mana konten yang pantas untuk konsumsi publik di era digital.
Tanggapan dan Desakan Evaluasi Mahasiswa FTTM ITB
Kasus ini memicu desakan agar pihak birokrasi ITB mengambil langkah tegas. Kampus diharapkan tidak hanya memberikan sanksi administratif, tetapi juga melakukan edukasi mendalam mengenai UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) dan pentingnya menciptakan ruang aman di kampus.
Sesuai dengan semangat Permendikbudristek No. 30 Tahun 2021, segala bentuk kekerasan seksual—termasuk verbal—tidak memiliki tempat di institusi pendidikan. Mahasiswa diharapkan paham bahwa kebebasan berekspresi tetap memiliki batasan, terutama jika sudah menyinggung kemanusiaan dan martabat gender lain.
Pelajaran Berharga buat Mahasiswa
Ini jadi pengingat buat kita semua, Sobat Muda. Apa yang dianggap “candaan tongkrongan” bisa berdampak fatal jika isinya bersifat diskriminatif atau melecehkan. Di era sekarang, jejak digital sangat sulit dihapus, dan integritas kita sebagai mahasiswa dipertaruhkan lewat apa yang kita bagikan di media sosial.
Sudah saatnya kreativitas mahasiswa disalurkan lewat karya yang inspiratif, bukan yang memicu kontroversi karena merendahkan pihak lain.