Celebrithink.com – Memasuki pertengahan bulan Sya‘ban, banyak dari kita yang mulai bersiap menyambut malam Nisfu Sya‘ban. Di masyarakat, malam ini identik dengan berbagai amalan khusus, mulai dari salat sunnah tertentu, doa bersama yang dirangkai sedemikian rupa, hingga puasa pada tanggal 15 Sya‘ban. Namun, gimana sih sebenarnya kedudukan amalan ini dalam perspektif Islam yang berdasar pada dalil kuat?
Ibadah Harus Punya “Pijakan” yang Jelas
Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Homaidi Hamid, memberikan pengingat penting dalam sebuah Pengajian Tarjih dilansir dari laman Muhamadiyah. Beliau menekankan bahwa dalam urusan ibadah, kita harus berpegang teguh pada dalil Al-Qur’an dan hadis yang sahih. Menurut Homaidi, sejauh ini tidak ditemukan dalil kuat yang secara spesifik memerintahkan ritual tertentu khusus hanya untuk malam Nisfu Sya‘ban. Jadi, kalau kita melakukan ritual yang tidak ada tuntunannya, tentu ini perlu kita tinjau kembali agar ibadah kita tetap sesuai jalur.
Keistimewaan Sepertiga Malam: Berlaku Tiap Hari
Homaidi menjelaskan bahwa kesempatan terbaik untuk berdoa dan meminta ampunan sebenarnya ada di sepertiga malam terakhir. Cara menghitungnya simpel, hitung durasi dari Magrib sampai Subuh, lalu bagi tiga. Nah, bagian terakhir itulah waktu yang paling mustajab.Hadis mengenai turunnya rahmat Allah di waktu sepertiga malam terakhir ini bersifat umum dan berlaku setiap malam sepanjang tahun.
“Karena hadis ini berlaku setiap malam, maka malam Nisfu Sya‘ban pun termasuk di dalamnya,” jelas Homaidi.
Jadi, poin pentingnya bukan menjadikan Nisfu Sya‘ban sebagai malam istimewa dengan ritual “dadakan” yang nggak ada dalilnya. Melainkan, kita diajak untuk menjadikan momen ini sebagai pengingat agar istikamah menghidupkan sepertiga malam terakhir, sama seperti malam-malam lainnya. Malam Nisfu Sya‘ban adalah bagian dari kesempatan emas yang Allah berikan setiap hari bagi siapa saja yang mau berdoa dan beristigfar. So, nggak perlu nunggu setahun sekali buat “curhat” maksimal sama Sang Pencipta, ya.