Celebrithink.com – Pernah nggak sih kamu merasa was-was tiap kali berangkat sekolah naik motor? Ternyata perasaan itu valid, lho. Data Polri semester I 2025 menunjukkan ada sekitar 133.811 remaja di bawah 17 tahun terlibat kecelakaan, dan motor jadi penyumbang angka tertinggi. Di Yogyakarta sendiri, dari Januari hingga September 2025, tercatat lebih dari 2.500 pelajar dan mahasiswa jadi korban kecelakaan. Angka ini jelas bukan sekadar statistik, tapi alarm keras buat kita semua.
Berangkat dari keresahan itu, SMA UII Yogyakarta menggelar acara keren di Perpustakaan Baswara Adibrata pada Jumat (8/5/2026). Mereka membedah buku berjudul “Melambat di Kota yang Berlari” karya Langit Senja. Kerennya lagi, Langit menulis buku ini sejak SMP dan sekarang ia duduk di kelas 10 SMA UII. Buku ini menguliti realita transportasi umum di Indonesia, khususnya Trans Jogja, dari kacamata seorang pelajar.
Trans Jogja: Solusi Keren Biar Nggak ‘Stuck’ di Jalan
Kepala Bidang Lalu Lintas Dishub DIY, Rizky Budi Utomo, spill fakta pahit: setiap jam ada 3 orang meninggal karena kecelakaan, dan dua di antaranya adalah pengendara motor. Pelajar di bawah 17 tahun secara hukum memang belum boleh bawa motor sendiri karena kematangan kognitif dan kontrol emosi yang belum stabil. Inilah kenapa transportasi umum jadi hak dasar yang wajib dipenuhi negara buat menjamin keselamatan siswa.
Manajer PT. AMI (Operator Trans Jogja), Wahyu Sakti Aji, bersama Ahmes Syahda dari Komunitas Transport for Yogyakarta juga hadir buat dengerin langsung curhatan para siswa. Strategi pull atau menarik masyarakat pakai transportasi umum terus digodok. Kepala SMA UII, Bapak Maman Surakhman, berharap Trans Jogja bisa lebih efisien waktu tunggunya dan lebih rajin sosialisasi ke sekolah-sekolah biar siswa merasa nyaman dan aman buat pindah dari motor ke bus.
Suara Langit Senja: Menulis untuk Perubahan
Bagi Langit Senja, buku ini adalah surat cinta sekaligus kritik buat sistem transportasi kita. Ia berharap Trans Jogja ke depannya bisa memfasilitasi mobilitas pelajar dengan lebih baik. “Melambat” bukan berarti tertinggal, tapi memilih cara yang lebih aman untuk sampai ke tujuan di tengah kota yang makin sibuk.
Kegiatan ini bukan cuma soal bedah buku, tapi juga wadah buat menjaring pengalaman dan tantangan yang dirasakan siswa sehari-hari. Dengan beralih ke transportasi umum, kita nggak cuma menaati hukum, tapi juga menjaga nyawa sendiri dan orang lain. Yuk, mulai lirik Trans Jogja buat jadi daily driver kamu ke sekolah.