Sapa Mesin Pake “Bro”, Gaya Unik Jurnalis Indonesia Taklukan AI di Tahun 2026

Pic by AMSI

Celebrithink.com – Pernah bayangin nggak kalau jurnalis sekarang nanya ke mesin AI pake sapaan “Bro”? Ternyata, riset terbaru dari BBC Media Action mengungkap fakta seru kalau interaksi jurnalis Indonesia sama Artificial Intelligence (AI) sudah se-akrab itu. Nggak cuma sekadar kaku, penggunaan teknologi ini sudah merambah ke level personal buat menunjang kerjaan sehari-hari.

ChatGPT Masih Jadi Primadona di Ruang Redaksi
Dalam urusan platform, ChatGPT memang belum ada lawan dengan tingkat penggunaan mencapai 86%, disusul Gemini di angka 63%. Menariknya, 94% output yang dihasilkan jurnalis masih berupa teks, meski perlahan mereka mulai melirik konten multimedia, musik, hingga koding skala kecil. AI paling sering diandalkan buat idea generation, mulai dari nyari topik liputan sampai bikin judul yang SEO-friendly abis biar masuk Google Discover.

Meski produktivitas naik gila-gilaan—dari yang tadinya cuma sanggup edit 25 artikel jadi bisa 60 artikel sehari—jurnalis kita nggak asal telan mentah-mentah. Untuk urusan fact-checking, mayoritas jurnalis justru ogah pakai AI karena takut kena “halusinasi” data. Mereka tetap lebih percaya verifikasi manual ke lapangan atau pakai Google Reverse Image.

Antara Produktivitas dan Tantangan Etika
Fenomena ini memang bikin dilema; di satu sisi 74% jurnalis melihat AI sebagai peluang emas buat efisiensi kerja dan mengurangi jam lembur. Tapi di sisi lain, ada kekhawatiran soal jurnalis jadi malas atau kualitas analisis yang jadi dangkal. Tantangan terbesarnya ada di transparansi; kadang hasil tulisan dibantu AI tapi editor lupa kasih disclaimer. Hal ini beda sama media kayak Liputan6.com atau Seputarpapua yang sudah punya pedoman internal ketat biar teknologi ini nggak melenceng dari kaidah jurnalistik.

BBC Media Action lewat proyek PIMHIE bersama AMSI pun terus berupaya menjembatani literasi AI ini. Tujuannya jelas: biar AI jadi asisten yang memperkuat konten, bukan justru menggantikan esensi jurnalisme itu sendiri. Jadi, tantangan buat ruang redaksi sekarang adalah gimana caranya tetap adaptif sama mesin tanpa kehilangan integritas dan tajamnya investigasi manual yang sudah jadi tradisi.

Populer video

Berita lainnya