Celebrithink.com – Kebijakan ini tentu bikin banyak pet parents patah hati. Pertanyaannya, kenapa konsep Pet Friendly Mall di sana bisa gagal total dan hanya bertahan selama beberapa hari saja? Jawabannya ada pada salah kaprah penerapan regulasi di lapangan.
Bebas Akses yang Berujung Masalah Baru
Pet Friendly Mall itu bukan berarti semua orang bebas membawa hewan peliharaan ke mana saja tanpa batas. Waktu program ini berjalan, hampir semua zona dan lantai mall bisa dijelajahi anabul, baik dilepas dengan tali (leash), digendong, maupun menggunakan stroller.
Prakteknya kemarin, pengunjung memang dibebaskan membawa peliharaan mereka ke area sensitif seperti food court. Tantangan terbesarnya ada di sini. Mall yang sukses menerapkan konsep ramah hewan justru adalah mall yang aturannya sangat ketat. Harus ada zonasi yang jelas, area khusus yang terisolasi, serta pembatasan akses yang tegas demi menjaga kenyamanan pengunjung lain yang mungkin fobia atau tidak nyaman dengan aroma hewan.
Potensi Besar yang Sia-Sia Karena Regulasi
Padahal, Mall 23 Semarang punya potensi yang sangat besar untuk menjadi pionir pet friendly mall di Jawa Tengah. Desain arsitekturnya yang megah, ruangannya yang luas, serta banyaknya area terbuka dengan konsep taman sangat mendukung untuk aktivitas walking time bersama anabul.
Sangat disayangkan jika program inovatif ini harus benar-benar dihentikan permanen hanya karena manajemen kurang matang dalam menyusun SOP keamanan dan kebersihan. Manajemen mall seharusnya bisa belajar dari mal-mal besar di Jakarta yang sukses menerapkan sistem paspor hewan atau wajib pampers selama berada di dalam area komersial.
Semoga keputusan penutupan ini hanya bersifat sementara untuk evaluasi total. Yuk, kita tunggu saja comeback program ini dengan sistem zonasi yang jauh lebih rapi dan ketat!