Riset NTU Singapore: Gempa Besar Picu Krisis Air Laut

Pic by NTU Singapore

Celebrithink.com – Riset terbaru dari NTU Singapore mengungkapkan bahwa gempa bumi berkekuatan besar di Asia Tenggara memicu penurunan permukaan tanah yang berlangsung hingga puluhan tahun. Fenomena geologis ini berpotensi membuat proyeksi kenaikan permukaan air laut di wilayah pesisir jauh lebih parah dari perkiraan sebelumnya. Jika pergeseran tanah pasca-gempa ini diabaikan dalam pemodelan, risiko banjir rob di kawasan dataran rendah terancam diremehkan secara signifikan.

Riset NTU Singapore : Efek Domino Gempa, Tanah Ambles Puluhan Tahun

Selama ini, kita cenderung fokus pada dampak langsung gempa bumi seperti guncangan hebat atau potensi tsunami. Namun, studi yang dipublikasikan di jurnal Communications Earth & Environment oleh tim Earth Observatory of Singapore (EOS) NTU membongkar fakta baru. Ada lapisan mantel atas yang melemah dan panas di bawah Sumatran backarc (wilayah di balik rangkaian gunung berapi Sumatra) yang perlahan berubah bentuk setelah deformasi tektonik besar.

Meski lapisan batuan dalam mantel bumi tersebut berwujud padat, sifatnya yang elastis membuatnya bisa bergerak lambat seiring waktu. Proses inilah yang menyebabkan daratan di atasnya terus bergeser dan ambles (land subsidence), bahkan bertahun-tahun setelah guncangan utama mereda.

Sinyal Bahaya untuk Wilayah Pesisir Asia Tenggara

“Mayoritas proyeksi kenaikan air laut saat ini cuma fokus pada faktor iklim seperti mencairnya lapisan es dan pemanasan samudra. Padahal, kita juga wajib melihat bagaimana tanah di bawah kaki kita bergerak,” ujar Prof. Emma Hill, salah satu penulis senior laporan ini.

Berdasarkan data GPS yang dihimpun selama lebih dari dua dekade di Singapura, Malaysia, dan Thailand, tim peneliti memantau pergerakan tanah pasca-gempa dahsyat Sumatra-Andaman 2004 dan gempa Wharton Basin 2012. Hasilnya mengejutkan: daratan tetap bergerak secara konsisten bahkan di lokasi yang jaraknya lebih dari 600 kilometer dari pusat gempa.

Bagi kota-kota pesisir di Asia Tenggara, kombinasi antara naiknya volume air laut global dan penurunan permukaan tanah lokal (relative sea-level) adalah skenario terburuk yang meningkatkan risiko banjir rob secara masif.

Pentingnya Transformasi Infrastruktur dan Tata Kota

Temuan dari Dr. Grace Ng dan tim peneliti NTU ini menjadi wake-up call penting bagi para perencana kota dan pembuat kebijakan. Data geodetik jangka panjang ini membuktikan bahwa pemodelan risiko banjir konvensional sudah tidak lagi relevan jika tidak memasukkan variabel pergeseran lempeng bumi pasca-gempa.

Guna meminimalisasi dampak jangka panjang, integrasi data pergerakan tanah geologis yang mendalam ini sangat krusial. Hasil riset ini diharapkan dapat memperbarui model risiko pesisir, sehingga pembangunan sistem drainase, tanggul laut, dan infrastruktur mitigasi bencana di Asia Tenggara bisa dirancang dengan jauh lebih akurat.

Populer video

Berita lainnya