Celebrithink.com – Pernah nggak sih kamu ngerasa ada orang yang “baik banget” tapi insting kamu bilang ada yang nggak beres? Hati-hati, bisa jadi itu bukan sekadar perhatian biasa, tapi awal dari grooming. Lewat buku Broken Strings, Aurelie Moeremans sukses bikin netizen merinding sekaligus tersadar kalau trauma masa kecil itu nyata dan nggak sebercanda itu.
Grooming: Bukan Kekerasan yang “Loud”, Tapi “Lurking”
Beda sama kekerasan fisik yang langsung kelihatan lukanya, grooming itu mainnya halus banget, guys. Proses ini jarang datang sebagai kekerasan yang frontal. Sebaliknya, ia sering dibungkus dengan perhatian berlebih, pujian yang bikin kamu ngerasa “spesial”, dan rasa aman palsu yang manipulatif banget.Pelaku biasanya membangun kepercayaan korbannya pelan-pelan. Tujuannya? Biar korbannya merasa “berutang budi” atau malah nggak sadar kalau mereka lagi dimanipulasi. Ini yang bikin grooming jadi bahaya banget karena sering kali terjadi di bawah radar orang tua atau teman terdekat.
Belajar dari Aurelie Moeremans di ‘Broken Strings’
Aurelie Moeremans lewat bukunya mengingatkan kita bahwa pengalaman kekerasan seksual, terutama yang terjadi saat kita masih bocah atau remaja, sering kali nggak langsung kita pahami sebagai “kekerasan”.Waktu itu kejadian, mungkin kita cuma ngerasa bingung, takut, atau malah ngerasa itu hal yang normal karena pelakunya adalah orang yang kita percaya. Luka ini ibarat broken strings (senar yang putus), awalnya mungkin cuma satu senar, tapi lama-lama merusak seluruh harmoni kehidupan kita sampai dewasa.
Dampak Mental Health yang Gak Bisa Di-skip
Jangan salah, dampaknya nggak bakal hilang cuma dengan bilang “ikhlasin aja”. Trauma ini bisa muncul dan bertahan lama banget. Mulai dari masalah trust issues, kecemasan (anxiety) yang nggak jelas ujungnya, sampai memengaruhi cara kita menjalin hubungan sama orang lain di masa depan.Proses pemulihan atau healing dari kekerasan seksual di usia dini itu bukan lari sprint, tapi maraton yang panjang banget. Perlu bantuan profesional kayak psikolog dan support system yang nggak judgmental.
Trust Your Gut!
Kalau kamu atau orang di sekitarmu ngerasa ada yang nggak beres dalam sebuah relasi, terutama jika ada perbedaan power atau usia yang jauh, please, trust your gut. Jangan biarkan perhatian palsu membungkam suaramu. Yuk, lebih aware soal batasan diri dan mulai berani speak up kalau ada sesuatu yang melanggar kenyamanan kamu.