Penyanyi asal Sumatera Utara, Anggi Marito, baru-baru ini menjadi sorotan publik. Hal ini bermula dari curahan hatinya tentang pengalaman kurang menyenangkan di sebuah pusat perbelanjaan. Anggi mengungkapkan keresahannya setelah menyaksikan perilaku orang-orang yang tidak mau mengalah saat menggunakan lift. Ia merasa miris karena banyak yang mengabaikan fungsi utama lift, yakni untuk kelompok prioritas seperti ibu hamil, pengguna kursi roda, lansia, atau yang membawa stroller.
Saat Anggi menggunakan lift sambil membawa stroller, ia menyadari bahwa orang-orang di sekitarnya tampak sehat, tetapi tetap memaksakan diri untuk naik lift. Ia merasa kesal karena mereka tidak memberi ruang bagi yang lebih membutuhkan.
“Sumpah ya, miris banget sama orang-orang di mal. Lift itu kan buat orang yang pakai kursi roda, bawa stroller, lagi hamil, atau bawa anak. Tadi aku antre lift sambil bawa stroller, dan ada dua pengguna kursi roda serta dua lansia,” ujar Anggi.
Anggi melanjutkan, di dalam lift yang ia gunakan, mayoritas penggunanya adalah orang sehat. Mereka tidak membawa anak kecil atau barang banyak, tetapi tetap memilih lift dibandingkan eskalator. “Mereka punya kaki, nggak bawa barang banyak, kenapa nggak naik eskalator aja?” tambahnya.
Ungkapan Anggi ini diunggah ke media sosial dan langsung ramai diperbincangkan. Video tersebut tersebar di berbagai akun gosip Instagram, memancing beragam reaksi dari warganet. Namun, respons yang muncul justru beragam, memunculkan pro dan kontra.
Beberapa warganet setuju dengan pendapat Anggi. “Aku juga sering ngomel soal ini. Orang sehat bugar lebih baik naik eskalator,” tulis seorang pengguna. Namun, ada juga yang mengkritik. “Kita nggak bisa mengatur orang, ini fasilitas umum. Atur diri kita saja,” tulis yang lain.
Ada pula warganet yang memilih netral. “Aku punya anak kecil, tapi nggak berharap diistimewakan. Tempat umum kan buat semua orang,” ujar pengguna lain. Meski menuai pro dan kontra, curahan hati Anggi mengingatkan kita akan pentingnya etika di tempat umum. Mengutamakan mereka yang lebih membutuhkan adalah bentuk empati yang sederhana tetapi berdampak besar.