Emas Si Penyelamat Aset di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

Pic by Pinterest

Celebrithink.com – Emas dipercaya sebagai store of value atau penyimpan nilai yang tahan banting. Saat inflasi tinggi atau geopolitik memanas, emas biasanya justru “unjuk gigi” dengan kenaikan harga. Tapi, sebelum kamu borong emas, yuk timbang dulu plus-minusnya secara objektif.

Kenapa Harus Emas?
Emas adalah musuh bebuyutan Inflasi. Nilainya cenderung naik saat harga barang meroket. Ini cara paling aman buat jaga daya beli uang kamu di masa depan.

  1. Cairnya Sat-Set (Likuiditas Tinggi): Butuh uang mendadak? Emas gampang banget dijual, mulai dari toko emas fisik sampai aplikasi digital.
  2. Investasi “Receh”: Gak perlu nunggu kaya buat punya emas. Sekarang modal Rp10.000 saja sudah bisa beli emas digital.
  3. Penyeimbang (Diversifikasi): Pas saham atau kripto lagi “kebakaran”, emas biasanya jadi penenang di portofolio kamu.

Apa Risikonya?

  1. Gak Ada “Uang Jajan”: Emas nggak kasih dividen atau bunga kayak saham/deposito. Cuan kamu murni dari selisih harga (capital gain).
  2. Masalah Penyimpanan: Punya emas fisik berarti harus siap brankas atau bayar biaya titip. Kalau digital, kamu bergantung sepenuhnya pada keamanan platform.
  3. Bukan untuk Jangka Pendek: Kalau butuh uangnya dalam 6 bulan, emas kurang pas karena ada selisih harga beli dan jual (spread) yang lumayan.

Strategi Cerdas Investasi Emas
Jangan asal beli! Ikuti langkah ini biar investasimu nggak zonk:

  1. Tetapkan Tujuan: Buat dana pendidikan anak 5 tahun lagi atau sekadar dana darurat? Ini bakal nentuin kamu pilih emas fisik atau digital.
  2. Cek Legalitas: Pastikan platform digital kamu punya izin OJK atau Bappebti. Jangan tergiur harga murah di bawah pasar!
  3. Pilih Bentuknya: Fisik, puas dipegang, cocok untuk jangka sangat panjang. Digital lebih praktis, aman dari risiko hilang, dan bisa dicicil tiap bulan.
  4. Pantau Harga Dunia: Gunakan acuan harga internasional agar kamu tahu kapan waktu yang tepat untuk “serok” atau jual.

Populer video

Berita lainnya