Celebrithink.com – Dunia seni rupa Yogyakarta kembali kedatangan energi baru yang segar dan mendalam. Pada Minggu, 8 Februari 2026, Museum Dan Tanah Liat resmi menjadi ruang bagi pameran bertajuk “SAWANG”. Pameran ini bukan sekadar pajangan estetis di dinding galeri, melainkan sebuah narasi jujur dari hasil studi intensif selama enam bulan di L’ASRY, sebuah kolektif belajar seni yang menempatkan proses sebagai medan tempur artistik paling utama.
Sesuai namanya, “Sawang” yang dalam bahasa Jawa berarti memandang, mengajak kita untuk tidak sekadar melihat dengan mata fisik. Melalui karya-karya Irsyad Ade Irawan dan Utin Rini, pengunjung diajak menyelami cara dunia dirasakan, diingat, dan dihadapi melalui kesadaran batin. Menariknya, pameran ini juga memamerkan “jejak belajar” mereka, mulai dari nirmana, gambar bentuk, sketsa, hingga eksplorasi media alternatif yang jarang terekspos ke publik.
Salah satu sosok yang mencuri perhatian adalah Utin Rini. Seniman asal Kalimantan ini membawa sensibilitas budaya sungai ke dalam ruang-ruang domestik perempuan modern. Sebagai lulusan seni grafis, Utin secara sadar “menantang” dirinya di L’ASRY untuk melepaskan pola kerja grafis yang biasanya terencana dan matang. Ia memilih terjun ke dalam spontanitas melukis yang lebih mengedepankan pendayagunaan rasa dan keberanian mencoba hal-hal baru yang tak terduga.
Karya-karya Utin Rini dikenal sangat intim karena berangkat dari pengalaman personalnya sebagai perempuan. Ia memotret isu-isu yang sangat relatable bagi Gen Z dan milenial, seperti dinamika mood swing, penggunaan makeup sebagai medium ekspresi, hingga hiruk-pikuk kehidupan side hustle. Uniknya, kecintaan Utin pada musik rock, metal lawas, hingga estetika psikedelik tahun 60-an muncul sebagai simbol-simbol naratif yang membuat karyanya terasa jenaka namun tetap kritis.
Pendekatan ini tidak hanya berhenti di ranah personal, tetapi juga menyentuh isu besar seperti eco-feminisme dan budaya populer kontemporer. Melalui pameran SAWANG, kita diajak melihat potret perempuan yang rapuh sekaligus resisten di tengah dunia yang terus berubah. Buat kamu yang sedang mencari inspirasi atau ingin melihat bagaimana sebuah proses belajar bertransformasi menjadi karya seni yang kuat, pameran ini adalah destinasi wajib di Yogyakarta bulan ini. Pameran berlangsung hingga 15 Februari 2026 di Museum dan Tanah Liat, Bantul, DIY.