Presiden Rusia, Vladimir Putin, secara langsung memberikan ucapan selamat kepada Donald Trump atas kemenangannya dalam Pemilu AS. Hal ini terjadi di tengah ketegangan antara Rusia dan AS terkait perang di Ukraina. Dalam pernyataan pertamanya, Putin memuji keberanian Trump dan menyebutnya sebagai “pria sejati.” Ucapan ini disampaikan saat berbicara di forum Valdai, Sochi, Rusia, pada Jumat (8/11/2024).
Putin menyoroti sikap Trump selama kampanye terkait Ukraina dan hubungan dengan Rusia. Menurut Putin, pernyataan Trump layak mendapat perhatian. Meski demikian, ia tidak secara tegas mendukung pernyataan Trump mengenai konflik Ukraina. Putin menyatakan kesiapan untuk berdialog dengan Trump, jika pemerintahan Trump menginginkan pembicaraan lebih lanjut.
Trump, dalam kampanyenya, menyatakan bahwa ia bisa menyelesaikan konflik di Ukraina dalam waktu 24 jam jika terpilih. Namun, ia tidak memberikan rincian lebih lanjut tentang rencana tersebut. Trump juga sering menghadapi tuduhan sebagai agen Rusia, tetapi pejabat Moskow menepis klaim ini. Mereka mengingatkan bahwa selama masa jabatan Trump (2017-2021), sikap keras terhadap Rusia tetap diterapkan. Rusia juga terus membantah tuduhan AS yang menyatakan bahwa Rusia mencampuri Pemilu AS 2024. Kremlin menganggap dugaan adanya kampanye disinformasi sebagai rumor belaka.
Perang di Ukraina yang telah berlangsung selama lebih dari dua tahun, kini memasuki fase baru yang menurut beberapa pejabat, mungkin menjadi tahap akhir. Pasukan Rusia bergerak lebih cepat daripada sebelumnya sejak awal konflik. Putin menegaskan, untuk mengakhiri perang, Ukraina harus menghentikan ambisi menjadi anggota NATO dan menarik pasukannya dari wilayah-wilayah yang diklaim Rusia.
Rusia kini mengendalikan Krimea, yang dianeksasi pada tahun 2014, serta 80% wilayah Donbas, termasuk Donetsk dan Luhansk. Selain itu, Rusia juga telah menguasai sebagian besar wilayah Zaporizhzhia dan Kherson. Putin mengecam tindakan Barat yang dianggapnya mendorong dunia ke “garis berbahaya” dengan berusaha menimbulkan kekalahan strategis bagi Rusia di Ukraina. Meski demikian, Putin menegaskan kesiapan Rusia untuk berdialog dengan mempertimbangkan kepentingan bersama yang sah.
Putin juga menuding Barat tidak pernah mengakui Rusia sebagai mitra setara sejak runtuhnya Uni Soviet. Menurutnya, Barat selalu memperlakukan Rusia sebagai kekuatan yang kalah dan terus memperluas NATO ke arah timur. Putin menegaskan bahwa Rusia siap untuk memulihkan hubungan dengan AS, tetapi keputusan ada di tangan Washington. Hingga kini, China tetap menjadi sekutu kuat Rusia.